Senin, 24 September 2012

Oktober


Namaku adalah Februari nama yang aneh karena memang aku lahir di bulan Februari. Di sini aku duduk sendiri di temani angin…Upss seperti  terdengar puitis padahal tidak juga. Terkadang aku juga tidak tahu aku ini penyair atau bukan???Yah kalianlah yang bisa menebaknya.Kembali ke angin ( lagi-lagi aku membual), tidak sebenarnya yang ingin kuceritakan adalah tentang seorang wanita. Wanita mengapa aku ingin bercerita tentang wanita??Jawabannya  mungkin karena aku masih muda.Jika berbicara tentang wanita, aku jadi teringat dengan seorang wanita yang kukagumi, namanya adalah Oktober. Namanya yang aneh meski mentangmentang dia lahir di bulan Oktober. Hee..Oktober pernah menjadi  bagian dalam masa remajaku,,eh salah mungkin sekarang aku juga masih mengingatnya.
Sekarang ini aku tak tahu dia berada dimana, apakah dia masih mengingatku ??Aku berharap dia masih mengingatku. Terakhir aku bertemu dengannya yaitu ketika kami sepakat untuk lulus ujian sekolah di akhir SMA . Oktober terlihat sangat bergembira saat akan lulus, pada waktu itu dibenaknya penuh dengan harapan dan cita-cita.
Sebaliknya tidak denganku, dalam lubuk hatiku aku berharap jika kita tidak pernah keluar dari masa SMA, selamanya terus menjadi murid SMA dan mungkin tak perlu berfikir serumit sekarang.Masa SMA adalah masa yang tenang di mana aku bisa mengenal Oktober. Dia seperti Aphrodite sungguh sangat cantik, dan ketika kau menatap matanya maka kau akan semakin ketakutan untuk menatap balik dirinya hingga kau tak tahu apa yang harus kau lakukan. Namun jangan salah sangka hatinya juga sangat baik.
Walaupun kami jarang berbicara langsung namun aku tahu semua kesukaanya. Yang paling dia sukai adalah bermain basket, dia penah bercita-cita menjadi atlet basket tapi orang tuanya menyuruh dia mendalami ilmu kecantikan. Hal yang sangat kontras dengan apa yang dia sukai itu.
Pertama kali aku bertemu dengannya aku tak pernah merasa untuk mengaguminya. Saat itu aku berfikir pendek dan hanya melihatnya sebatas cewek cantik yang yaah.. begitulah membosankan dan sombong.Tapi hari itu sepertinya Oktober sedang mengalami masalah dengan motornya. Motor vario merah yang agak besar ukurannya sulit di keluarkannya dari tempat parkir tempat dia meletakkan motornya. Banyak sekali motor-motor lain yang bejajar dibelakang motornya. Karena motornya berada di tempat yang paling depan maka dia kesulitan untuk mengeluarkannya.
Aku melihatnya dengan masa bodoh tanpa ada pikiran untuk membantunya. Hingga pada akhirnya bisa kutebak, ada seorang cowok yang tak lain adalah temanku sendiri menawarkan bantuan padanya.Namun aku sedikit terkejut ternyata Oktober menolak bantuan dari temanku itu. Dengan wajah yang santai dan senyumsenyum dia berkata kalau dirumahnya dia sudah sering disuruh mengangkat beban yang berat-berat dan memindahkan motor bukan masalah yang besar baginya. Dan sangat tak masuk akal dan tak logis karena ketika itu aku langsung mengaguminya.Dia mirip dengan ibuku, sangat cantik namun tidak manja. Pada dasarnya wanita memang memiliki sifat manja dan aku bisa memakluminya, akan tetapi sifat manja yang ada di dalam dirinya sungguh natural dan tidak dibuat-buat dan itu membuatku jadi mengerti tentang kecantikan yang dimilikinya.
Pada suatu malam handphoneku berbunyi dengan nada mortal kombat yang aku sukai dulu, Kulihat ada sms yang masuk. Aku orang yang sangat malas hingga kadang membalas smspun aku malas. Lebih baik langsung telepon dari pada repot mengerakan jari untuk sms, apalagi hpku nokia tipe lama yang tombolya sangat susah. Kulihat sms itu dan ternyata Oktober mengirim sms padaku. Dan saat itu aku langsung berupah pikiran tentang sms.Aku ingat pernah bertukar nomor handphone dengannya. Saat itu alasanku ingin bertanya tentang masalah ujian sekolah yang akan kami hadapi. Kupikir dia pasti tak akan pernah sms denganku. Tapi saat ini aku berubah pikiran nyatanya sekarang dia mengirim sms padaku dengan kata-kata yang tak pernah kulupakan  “halo sayang”.“Halo sayang”kata-kata yang terdengar norak tapi sepertinya itulah kata-kata yang saat itu kuharapkan. Namun kenyataanya kata-kata pertama yang kuterima dari smsnya adalah  “Februari tadi sore aku lewat di depan rumahmu tak kira kamu tapi ternyata wajahnya kok tua, sudah terlanjur tak sapa namamu tapi akunya jadi malu karena bukan kamu”. Saat melihat pertama isi smsnya aku tak tahu harus tertawa atau senang terlebih dahulu
Aku tidak suka keluar rumah karena tidak tahu topik apa yang akan kubicarakan jika bertemu dengan tetangga. Tapi sekarang Oktober ada di dekat rumahku karena kebetulan pamanya adalah tetanggaku.Saat itu aku jadi sering bersms dengan Oktober, kami saling bercerita tentang banyak hal terutama tentang kekonyolan karena Oktober sangat menyukai humor. Terkadang kata-kata yang dikirimnya sangat lucu. Aku tak habis fikir sebab cewek secantik itu bisa membuat lelucon yang tidak dibuat-buat. Setelah mengenalnya aku mulai menghilangkan pandanganku yang dulu tentangnya. Dan ini yang disebut oleh pepatah “Tak kenal maka Tak sayang”.
Aku pernah mengalami sakit flu yang membahagiakan dalam hidupku, awalnya memang menjengkelkan sebelum aku tahu  kalau Oktober juga terserang sakit flu yang sama denganku tapi bedanya dia sudah hampir sembuh. Saat kuberitahu kalau aku juga terserang flu,Oktober langsung memberiku ramuan yang aneh-aneh yang kuingat dia menyuruhku minum vitamin c 10.000cc dan apalah masih banyak lagi yang tak mau kuingat. Tapi aku senang dia memperhatikanku.Ketika itu aku sangat pengecut (walaupun sekarang masih). Karenanya aku tak pernah berani berbicara langsung dengan Oktober. Jika melihat matanya aku jadi tak mengerti apa yang ingin kubicarakan. Aku berada diantara kebimbangan dan rasa tak percaya diri. Seperti Matahari yang tak ingin kehilangan siangnya atau Bulan yang kehilangan malamnya mungkin seperti itulah keadaanku saat itu.Di sms aku bisa bercerita tentang banyak hal tapi di dunia  nyata aku seperti tak mengenalnya. Aku menjauh darinya padahal aku ingin dekat. Aku bingung bagaimana harus bersikap. Pernah ketika dia sedih karena dia dan temantemannya kesulitan mengerjakan ujian akhir sekolah. Aku takut dia menangis dan aku ingin datang menghiburnya tapi nyatanya aku tak berani menghampirinya.
Sekarang itulah mungkin yang dinamakan dengan menyesal. Hpku hilang dan akujuga  pindah rumah hingga aku tak tahu dia dimana sekarang. Kadang aku berfikir mengapa penyesalan itu harus ada. Tapi aku tahu penyesalan itu ada untuk kita belajar. Memang kita boleh merasa takut tapi ada kalanya kita harus berani. Seperti saat itu jika aku berani untuk bilang bahwa aku menyukainya.

Kamis, 01 Oktober 2009

Dimensi Kalbu

Kain selendang Srikandi yang tidak terjamah
Menguraikan multitafsir dalam benakku
Dia sesosok fatamorgana yang ingin kugapai
Mengajaknya pergi ke pemandian wangi mungkin tidaklah sulit
Namun topeng ini tidak ingin lepas dariku
Saat itu mulutku ingin bicara
Tapi kau bidadari berkharisma yang menghilangkan Hipotesaku

Aku begitu sulit menulis syair ini
Karena memang tidak ada kisah cintaku denganmu
Yang kulakukan hanyalah kekaguman satu arah tanpa arti
Yang membuatmu menunggu di keraton kota kita
Dengan paras sedih atau senang yang tidak kuketahui

Tak bisa kukatakan ketulusan ini
Dalam bahasa yang diciptakan Tuhan
Dan kiasan sesak nafas-nafasmu
Detik-detik itu terlalu kupikirkan
Rangkaian kata kata panjang akan kuukir
Namun tidak menandingi penyesalan kepergianmu
Waktu ini aku sangat tahu
Aku menyayangimu, kekasih
Tapi jalanmu masih tak bisa kutempuh

Spiderman

Jaring-jaringku membungkus senyum manusia itu
Ketika aku berjalan mengarungi waktu ini
Bocah canggung berkacamata itu, tersengat takdir laba-laba hitam
Suatu fenomena yang tak kuketahui
Saat kekuatan besar tiba-tiba hinggap dalam diriku
Ekor Iblis dan sayap malaikat saling berhamburan dan terkubur di jiwaku
Aku tahu, Harus memilih diantara mereka
Dan ekor iblis pun semakin panjang, melihat dunia esok yang akan kugenggam
Aku mulai tenggelam dalam kebingungan dari frase-frase yang sedikit menyakitkan
Namun tangan yang hangat telah menarikku dari sungai kegelapan
Mendiamkan alunan nada musik yang bobrok
Yang kulihat adalah sesosok lelaki tua sederhana
Dia setitik cahaya yang membangkitkan nilai-nilai kepahlawananku
Lelaki tua itu berkata di dalam kekuatan yang besar terdapat pula Tanggung jawab yang besar
Takdirku sepertinya sudah menanti...

Dari atas atap di gedung tertinggi kota Newyork
Tampak wajah-wajah mereka yang suram
Moralitas dan penindasan merupakan sebagian dari energi negatif manusia
Semua harus kumusnahkan
Dengan topeng yang terlihat dari kaca gedung seberang
Dan kostum norak yang tak mungkin manusia normal pakai
Akupun berayun dengan warna merah biru dari symbol keberanian yang kupercaya

Manusia lahir dalam Ruang Lingkup sanubari keindahan
Banyak bagian tak berdosa menjadi korban dari mental-mental yang berantakan
Aku sadar jaringku akan seperti tongkat sihir
Berusaha menyadarkan hati manusia yang terkena kutukan
Biarlah mereka tak tahu aku menangis dari balik topengku
Ataupun kelelahan hidup yang aku jalani
Yang ingin kulihat adalah kebahagiaan
Agar bunga-bunga di pinggiran jalan selalu mekar
Dan lampu-lampu kota kita ini tidak pernah padam
Aku akan selalu siap memanfaatkan takdir suci ini



Kupandang dari Langit

Jika dunia yang kulalui sudah membusuk
Berarti manusia telah masuk ke sarang lintah yang kotor ini
Semua yang kulihat dan kupikirkan
Merupakan rangkaian fotografis berupa karangan fiktif yang ku kejar
Semuanya bukanlah ilusi, namun suatu kebenaran
Omong kosong dari suatu makhluk yang tidak penting
Membangkitkan manusia menjadi sebuah sosok parasit
kebodohan, Imitasi, kapitalisme dan liberalisme merupakan roda hitam yang mereka tumpangi
Suatu wadah mengkhawatirkan yang mereka senangi
Betapa memusingkannya itu
Aku bukanlah makhluk utusan khusus dari langit
Tapi begitu menderita,
Menjadi bagian dari koloni-koloni yang tersengat kegelapan
Harapan dan ide positifisme yang kuwujudkan nanti
Akan Ku ajak mereka kedalam lingkup kehidupan indah
Bahkan orang matipun akan mengacungkan jempol
Aku akan bahagia, melihat orang di sekitarku tertawa bahagia



Waktu ke waktu duniaku semakin tak berbentuk dan terpuruk
Melepaskan putaran-putaran tidak terkontrol yang tertanam di otakku
Sebenarnya aku bukanlah filsuf yang menggairahkan metode-metode pemikiran
Namun aku sudah mengarungi langkah-langkah keheningan ini
Aku ingin menggapai cetakan kaidah kemurnian yang realistis
Menghindarkan kaum-kaumku dari Keprimitifan
Dan mencapai suatu keadaan hidup yang lebih manusiawi dan rasional
Dalam cakrawala pengembaraan dan pencarianku ini
Jalanku sedikit tersendat oleh kejahanaman
Semua penderitaan dan penghinaan yang kulalui hanyalah tumbal
Agar cermin kebenaran selalu memihakku
Ingin segera kubebaskan jiwa-jiwa yang bobrok itu
Dan kugantikan dengan nafas-nafas suci dan tidak pedih
Yang kusisipkan melalui rangkaian kata-kata yang tak pernah patah
Inilah sumpah si pembawa perubahan
Yang akan menuangkan logam keadilan ke cawan kedamaian
Untuk hari esok yang indah kelak


Jankauan-jangkauan takdir itu bukanlah suatu keabstrakan
Tetapi semakin menghilang dan jauh
Nampaknya si Sagitarius akan mengeksekusi naluri perjuanganku
Sekarang dadaku sesak oleh kemunafikan
Dari bisikan-bisikan para begundal yang tidak tahu diri
Mereka serakah dan melolong tajam bagai anjing yang haus kehormatan
Kini aku menumbuhkan benih bunga mawar di kepalaku
Dan berharap kapan menyingkirkan mereka
Sekarang aku masih mengandalkan tinta penaku
Dengan merasakan serta mengemban amanat para pendahulu
Semoga paradigma yang kucapai tak pernah goyah
Menghancurkan sebuah ketidakakurasian di planet ke tiga ini
Membankitkan pemikiran makhluk di karang-karang tua
dan Mereka akan bangun dari tidur panjang yang melelahkan
Sebelum mereka sadar, para begundal sudah di ujung kemenangan
Heeii..para prajurit kebebasan di nadi-nadiku
Rasakanlah dunia baru yang akan datang
Akankah sesuai dengan lukisan indah di kanvas