Kain selendang Srikandi yang tidak terjamah
Menguraikan multitafsir dalam benakku
Dia sesosok fatamorgana yang ingin kugapai
Mengajaknya pergi ke pemandian wangi mungkin tidaklah sulit
Namun topeng ini tidak ingin lepas dariku
Saat itu mulutku ingin bicara
Tapi kau bidadari berkharisma yang menghilangkan Hipotesaku
Aku begitu sulit menulis syair ini
Karena memang tidak ada kisah cintaku denganmu
Yang kulakukan hanyalah kekaguman satu arah tanpa arti
Yang membuatmu menunggu di keraton kota kita
Dengan paras sedih atau senang yang tidak kuketahui
Tak bisa kukatakan ketulusan ini
Dalam bahasa yang diciptakan Tuhan
Dan kiasan sesak nafas-nafasmu
Detik-detik itu terlalu kupikirkan
Rangkaian kata kata panjang akan kuukir
Namun tidak menandingi penyesalan kepergianmu
Waktu ini aku sangat tahu
Aku menyayangimu, kekasih
Tapi jalanmu masih tak bisa kutempuh
Kamis, 01 Oktober 2009
Spiderman
Jaring-jaringku membungkus senyum manusia itu
Ketika aku berjalan mengarungi waktu ini
Bocah canggung berkacamata itu, tersengat takdir laba-laba hitam
Suatu fenomena yang tak kuketahui
Saat kekuatan besar tiba-tiba hinggap dalam diriku
Ekor Iblis dan sayap malaikat saling berhamburan dan terkubur di jiwaku
Aku tahu, Harus memilih diantara mereka
Dan ekor iblis pun semakin panjang, melihat dunia esok yang akan kugenggam
Aku mulai tenggelam dalam kebingungan dari frase-frase yang sedikit menyakitkan
Namun tangan yang hangat telah menarikku dari sungai kegelapan
Mendiamkan alunan nada musik yang bobrok
Yang kulihat adalah sesosok lelaki tua sederhana
Dia setitik cahaya yang membangkitkan nilai-nilai kepahlawananku
Lelaki tua itu berkata di dalam kekuatan yang besar terdapat pula Tanggung jawab yang besar
Takdirku sepertinya sudah menanti...
Dari atas atap di gedung tertinggi kota Newyork
Tampak wajah-wajah mereka yang suram
Moralitas dan penindasan merupakan sebagian dari energi negatif manusia
Semua harus kumusnahkan
Dengan topeng yang terlihat dari kaca gedung seberang
Dan kostum norak yang tak mungkin manusia normal pakai
Akupun berayun dengan warna merah biru dari symbol keberanian yang kupercaya
Manusia lahir dalam Ruang Lingkup sanubari keindahan
Banyak bagian tak berdosa menjadi korban dari mental-mental yang berantakan
Aku sadar jaringku akan seperti tongkat sihir
Berusaha menyadarkan hati manusia yang terkena kutukan
Biarlah mereka tak tahu aku menangis dari balik topengku
Ataupun kelelahan hidup yang aku jalani
Yang ingin kulihat adalah kebahagiaan
Agar bunga-bunga di pinggiran jalan selalu mekar
Dan lampu-lampu kota kita ini tidak pernah padam
Aku akan selalu siap memanfaatkan takdir suci ini
Ketika aku berjalan mengarungi waktu ini
Bocah canggung berkacamata itu, tersengat takdir laba-laba hitam
Suatu fenomena yang tak kuketahui
Saat kekuatan besar tiba-tiba hinggap dalam diriku
Ekor Iblis dan sayap malaikat saling berhamburan dan terkubur di jiwaku
Aku tahu, Harus memilih diantara mereka
Dan ekor iblis pun semakin panjang, melihat dunia esok yang akan kugenggam
Aku mulai tenggelam dalam kebingungan dari frase-frase yang sedikit menyakitkan
Namun tangan yang hangat telah menarikku dari sungai kegelapan
Mendiamkan alunan nada musik yang bobrok
Yang kulihat adalah sesosok lelaki tua sederhana
Dia setitik cahaya yang membangkitkan nilai-nilai kepahlawananku
Lelaki tua itu berkata di dalam kekuatan yang besar terdapat pula Tanggung jawab yang besar
Takdirku sepertinya sudah menanti...
Dari atas atap di gedung tertinggi kota Newyork
Tampak wajah-wajah mereka yang suram
Moralitas dan penindasan merupakan sebagian dari energi negatif manusia
Semua harus kumusnahkan
Dengan topeng yang terlihat dari kaca gedung seberang
Dan kostum norak yang tak mungkin manusia normal pakai
Akupun berayun dengan warna merah biru dari symbol keberanian yang kupercaya
Manusia lahir dalam Ruang Lingkup sanubari keindahan
Banyak bagian tak berdosa menjadi korban dari mental-mental yang berantakan
Aku sadar jaringku akan seperti tongkat sihir
Berusaha menyadarkan hati manusia yang terkena kutukan
Biarlah mereka tak tahu aku menangis dari balik topengku
Ataupun kelelahan hidup yang aku jalani
Yang ingin kulihat adalah kebahagiaan
Agar bunga-bunga di pinggiran jalan selalu mekar
Dan lampu-lampu kota kita ini tidak pernah padam
Aku akan selalu siap memanfaatkan takdir suci ini
Kupandang dari Langit
Jika dunia yang kulalui sudah membusuk
Berarti manusia telah masuk ke sarang lintah yang kotor ini
Semua yang kulihat dan kupikirkan
Merupakan rangkaian fotografis berupa karangan fiktif yang ku kejar
Semuanya bukanlah ilusi, namun suatu kebenaran
Omong kosong dari suatu makhluk yang tidak penting
Membangkitkan manusia menjadi sebuah sosok parasit
kebodohan, Imitasi, kapitalisme dan liberalisme merupakan roda hitam yang mereka tumpangi
Suatu wadah mengkhawatirkan yang mereka senangi
Betapa memusingkannya itu
Aku bukanlah makhluk utusan khusus dari langit
Tapi begitu menderita,
Menjadi bagian dari koloni-koloni yang tersengat kegelapan
Harapan dan ide positifisme yang kuwujudkan nanti
Akan Ku ajak mereka kedalam lingkup kehidupan indah
Bahkan orang matipun akan mengacungkan jempol
Aku akan bahagia, melihat orang di sekitarku tertawa bahagia
Waktu ke waktu duniaku semakin tak berbentuk dan terpuruk
Melepaskan putaran-putaran tidak terkontrol yang tertanam di otakku
Sebenarnya aku bukanlah filsuf yang menggairahkan metode-metode pemikiran
Namun aku sudah mengarungi langkah-langkah keheningan ini
Aku ingin menggapai cetakan kaidah kemurnian yang realistis
Menghindarkan kaum-kaumku dari Keprimitifan
Dan mencapai suatu keadaan hidup yang lebih manusiawi dan rasional
Dalam cakrawala pengembaraan dan pencarianku ini
Jalanku sedikit tersendat oleh kejahanaman
Semua penderitaan dan penghinaan yang kulalui hanyalah tumbal
Agar cermin kebenaran selalu memihakku
Ingin segera kubebaskan jiwa-jiwa yang bobrok itu
Dan kugantikan dengan nafas-nafas suci dan tidak pedih
Yang kusisipkan melalui rangkaian kata-kata yang tak pernah patah
Inilah sumpah si pembawa perubahan
Yang akan menuangkan logam keadilan ke cawan kedamaian
Untuk hari esok yang indah kelak
Jankauan-jangkauan takdir itu bukanlah suatu keabstrakan
Tetapi semakin menghilang dan jauh
Nampaknya si Sagitarius akan mengeksekusi naluri perjuanganku
Sekarang dadaku sesak oleh kemunafikan
Dari bisikan-bisikan para begundal yang tidak tahu diri
Mereka serakah dan melolong tajam bagai anjing yang haus kehormatan
Kini aku menumbuhkan benih bunga mawar di kepalaku
Dan berharap kapan menyingkirkan mereka
Sekarang aku masih mengandalkan tinta penaku
Dengan merasakan serta mengemban amanat para pendahulu
Semoga paradigma yang kucapai tak pernah goyah
Menghancurkan sebuah ketidakakurasian di planet ke tiga ini
Membankitkan pemikiran makhluk di karang-karang tua
dan Mereka akan bangun dari tidur panjang yang melelahkan
Sebelum mereka sadar, para begundal sudah di ujung kemenangan
Heeii..para prajurit kebebasan di nadi-nadiku
Rasakanlah dunia baru yang akan datang
Akankah sesuai dengan lukisan indah di kanvas
Berarti manusia telah masuk ke sarang lintah yang kotor ini
Semua yang kulihat dan kupikirkan
Merupakan rangkaian fotografis berupa karangan fiktif yang ku kejar
Semuanya bukanlah ilusi, namun suatu kebenaran
Omong kosong dari suatu makhluk yang tidak penting
Membangkitkan manusia menjadi sebuah sosok parasit
kebodohan, Imitasi, kapitalisme dan liberalisme merupakan roda hitam yang mereka tumpangi
Suatu wadah mengkhawatirkan yang mereka senangi
Betapa memusingkannya itu
Aku bukanlah makhluk utusan khusus dari langit
Tapi begitu menderita,
Menjadi bagian dari koloni-koloni yang tersengat kegelapan
Harapan dan ide positifisme yang kuwujudkan nanti
Akan Ku ajak mereka kedalam lingkup kehidupan indah
Bahkan orang matipun akan mengacungkan jempol
Aku akan bahagia, melihat orang di sekitarku tertawa bahagia
Waktu ke waktu duniaku semakin tak berbentuk dan terpuruk
Melepaskan putaran-putaran tidak terkontrol yang tertanam di otakku
Sebenarnya aku bukanlah filsuf yang menggairahkan metode-metode pemikiran
Namun aku sudah mengarungi langkah-langkah keheningan ini
Aku ingin menggapai cetakan kaidah kemurnian yang realistis
Menghindarkan kaum-kaumku dari Keprimitifan
Dan mencapai suatu keadaan hidup yang lebih manusiawi dan rasional
Dalam cakrawala pengembaraan dan pencarianku ini
Jalanku sedikit tersendat oleh kejahanaman
Semua penderitaan dan penghinaan yang kulalui hanyalah tumbal
Agar cermin kebenaran selalu memihakku
Ingin segera kubebaskan jiwa-jiwa yang bobrok itu
Dan kugantikan dengan nafas-nafas suci dan tidak pedih
Yang kusisipkan melalui rangkaian kata-kata yang tak pernah patah
Inilah sumpah si pembawa perubahan
Yang akan menuangkan logam keadilan ke cawan kedamaian
Untuk hari esok yang indah kelak
Jankauan-jangkauan takdir itu bukanlah suatu keabstrakan
Tetapi semakin menghilang dan jauh
Nampaknya si Sagitarius akan mengeksekusi naluri perjuanganku
Sekarang dadaku sesak oleh kemunafikan
Dari bisikan-bisikan para begundal yang tidak tahu diri
Mereka serakah dan melolong tajam bagai anjing yang haus kehormatan
Kini aku menumbuhkan benih bunga mawar di kepalaku
Dan berharap kapan menyingkirkan mereka
Sekarang aku masih mengandalkan tinta penaku
Dengan merasakan serta mengemban amanat para pendahulu
Semoga paradigma yang kucapai tak pernah goyah
Menghancurkan sebuah ketidakakurasian di planet ke tiga ini
Membankitkan pemikiran makhluk di karang-karang tua
dan Mereka akan bangun dari tidur panjang yang melelahkan
Sebelum mereka sadar, para begundal sudah di ujung kemenangan
Heeii..para prajurit kebebasan di nadi-nadiku
Rasakanlah dunia baru yang akan datang
Akankah sesuai dengan lukisan indah di kanvas
Langganan:
Postingan (Atom)
